Jumat, 01 Mei 2015

Dr. KH. Husein Muhammad : “ Poligami Sakinah Group adalah bentuk pembodohan kepada masayarakat”.

Kediri – Eksploitasi terhadap perempuan dan kekerasan seksual terhadap remaja terus meningkat dan menjadi perhatian. Kondisi ini diperparah oleh korban, bahwa apa yang telah dilakukan tidak disadarinya, sehingga perlu ada pemahaman, pendekatan dan perhatian yang lebih dari masyarakat sekitar.
Itulah kesimpulan dari seminar yang diadakan di kampus STAI Badrus Sholeh Purwoasri Kediri yang di hadiri oleh Dr. KH Husein Muhammad sebagai narasumbernya, yang juga merupakan pendiri dari LSM Rahima juga salah satu mantan komisioner Komisi Nasional anti kekerasan terhadap perempuan tahun 2008. Seminar yang dihadiri tidak kurang dari 200 peserta, terdiri dari unsur pimpinan STAI Badrus Sholeh, Mahasiswa dan siswa MA Al-Hikmah tampak antusias mendengarkan paparan yang di sampaikan oleh Dr. KH Husein Muhammad, terlebih ketika Dr. Husein membuka season dioalog.
Menurut Binti muliati salah satu dosen STAI Badrus Sholeh, kegiatan semacam ini perlu sering dilakukan, agar membuka cakrawala keilmuan bagi seluruh mahasiswa.”mudah-mudahan dengan dilaksanakan seminar semacam kedepannya akan semakin banyak yang peduli terhadap nasib perempuan”. Ungkap Binti salah satu Dosen STAI Badrus Sholeh
Dalam paparannya Kyai Husein Muhammad mengatakan bahwa eksploitasi terhadap perempuan dan kekerasan terhadap remaja sudah sangat memprihatinkan, banyaknya pekerja seks komersial, traficing, yang kadang tidak disadarinya sendiri bagi korbanya.
Kyai Husein juga menyinggung isu hangat akhir-akhir ini terkait dengan digelarnya konggres Poligami Sakinah Group ( PSG ) atau Jamaah Ta’adud sakinah yang diselenggarakan di mojokerto. “Poligami Sakinah Group (PSG) merupakan upaya pembodohan terhadap masyarakat”. Ujar Kyai Husein.
Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa selama ini mereka menggunakan dalil untuk mengangkat harkat dan martabat wanita, itu hanya upaya pembenaran langkah yang dilakukan,          “ Ingat wanita yang dimadu secara psikis tidak pernah menerima, kalaupun mereka menerima itu karena beban ekonomi dan ketergantungan terhadap laki-laki” tambahnya.
Untuk itu, lanjutnya ia berharap ada kartini-kartini baru yang mandiri, kuat, dan berani membela kepentingan perempuan, ia juga sangat mengapresiasi Ibu Dr. Noer Chalida Badrus yang mengangkat tema perempuan dalam disertasinya doktoralnya. ” Banyak tokoh-tokoh perempuan yang berhasil menjadi seorang pemimpin, seperti Siti Aisyah R.A, yang kecerdasanya melampaui kecerdasan laki-laki” pungkas kyai feminisme yang aktif menulis terkait dengan perempuan dalam buku-bukunya maupun dalam diskusi lainya yang juga sebagai alumni pondok pesantren lirboyo Kediri ini.

Ketua STAI Badrus Sholeh Lilik Noer Chalida Badrus mengatakan bahwa mahasiswa perlu mendapat pencerahan untuk menambah wawasan keilmuan dari orang sekaliber Kyai Husein Muhammad. “ kita berharap bahwa kegitan-kegiatan ilmiah berupa seminar dan diskusi seperti ini akan terus menjadi budaya dilingkungan kampus” ujarnya. Ketua STAI Badrus Sholeh yang juga merupakan Doktor dari UIN Sunan Ampel ini mengapresiasi pemikiran-pemikiran Kyai Husein tentang perlindungan terhadap perempuan.( Shof)

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Kediri: Selamat Hari Pendidikan Nasional! Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tahun pada tanggal 2 Mei. Pemerintah pertama kali menetapkan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional pada 16 Desember 1959. Tanggal 2 Mei dipilih karena tanggal itu merupakan tanggal lahir Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. 
Peringatan hari Pendidikan nasional diperingati secara luas di seluruh pelosok Tanah Air tak terkecuali di kediri, meski Hardiknas tidak dijadikan hari libur, sebagaimana Hari Buruh Internasional, namun tidak mengurangi makna Hari Pendidikan ini, salah satu penggiat pendidikan Zainal Muttaqin salah seorang kepala SMP Mamabaul Hisan ngadiluwih ini mengatakan, bahwa hari Pendidikan ini sebagai momentum untuk terus meningkatkan profesionalisme baik di lembaga maupun pada guru-gurunya, " Sudah saatnya pendidikan kita terus meningkatkan  gradenya dengan adanya Akreditasi dan Sertifikasi Guru, tidak ada alasan lagi pendidikan kita tertinggal dengan Negara tetagga" ungkap  Kepala sekolah yang juga sebagai Dosen STAIBA Purwoasri ini. 

Lebih lanjut Kandidat doktor Universitas Islam Sunan Ampel ini mengatakan Pendidikan  kita harus mempunyai karakter sebagaima tema Hari Pendidikan Nasional Tahu ini " Pendidikan sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila’ dengan kata kunci "gerakan" yaitu yang melibatkan seluruh elemen bangsa, tak terkecuali santri-santri di Pondok Pesantren.  Semangat Ki Hajar Dewantara adalah semangat Pendidika kita yang harus kita pupuk dan kita sirami agar terus menggelora dalam sanubari kita, tidak hanya pelaku pendidika tetapi seluruh komponen bagsa termasuk orangtua.(Shof)